Pages

Saturday, 18 December 2010

Marxisme! Optimisme!


Sambil menikmati secangkir kopi, izinkan saya kali ini membincang  sedikit tentang Marxisme di kedai kopi. Supaya kafein dalam pemikiran dan ide-ide liar kita semakin terasah dan menajam untuk mencoba memahami (bukan menerima) ideologi orang lain.

Marxisme dan atau Komunisme lahir dari masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.

Pemahaman diri sendiri Marxisme bukan merupakan suatu filsafat baru (menurut Marx, filsafat hanya sibuk menginterpretasi sejarah dan kenyataan), tetapi bermaksud menganti filsafat (dengan tujuan mengubah sejarah dan kenyataan). Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu "manifesto Komunis" di mana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis. Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), ya bahkan tanpa negara (stateless society): sosialisme/komunisme. Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas / kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya.

Falsafah hidup atau "weltanschauung" marxisme adalah Ateisme. Pertama-tama ateisme itu harus dimengerti dari konteks kelahiran Marxisme, di mana terutama gereja Kristen Protestan gagal untuk merespon tantangan-tantangan sosial yang muncul pada abad ke-19 di Eropa. Kalau Marx berbicara tentang agama sebagai "opium untuk bangsa" - di depan matanya terutama adalah suatu agama seperti gerakan Pietisme Kristen Protestan yang mengutamakan "keselamatan jiwa" seseorang dan tidak peduli terhadap kondisi sosial dan politik. Karl Marx mengalami bentuk agama yang hanya menstabilkan status quo dan yang beraliansi dengan penguasa-penguasa zamannya. Allah diperalat untuk melegitimasi struktur-struktur kuasa dan sistem politik-kapitalis. 

Namun, Ateisme komunis bukan hanya hasil konteks sosial-politis abad ke-19, tetapi berkembang menjadi suatu ideologi anti-agama. Dalam dialog antara komunisme dan agama yang dilaksanakan dalam pelbagi bentuk khususnya pada tahun enampuluhan abad ke-20, beberapa orang komunis memang mengakui bahwa agama bisa juga merupakan suatu faktor pembebasan dan keadilan sosial, tetapi pendirian ateis tidak pernah dipertanyakan. Untuk Marxisme, agama adalah projeksi manusia (Feuerbach) dan hanya mencerminkan struktur-struktur kuasa masyarakat. Manusia harus membebaskan diri dari semua ketergantungan dan otoritas, baik manusiawi maupun ilahi.

Menurut Etika Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang bedasarkan pernyataan/wahyu ilahi atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materiel masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (mis. dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya - yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas - untuk "keselamatan" seluruh bangsa.

Disini nampak antropologi dari marxisme yang sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, yang melalui kerja manusia alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses me-masyarakat-kan, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll.) ditiadakan.  Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.

Disini muncul jurang yang sangat besar antara teori dan praktek marxisme, antara ideologi komunisme dan sosialisme real. Negeri yang pertama kali menerapkan sistem komunisme adalah Uni Soviet, 1917 di bawah pimpinan Lenin (...Stalin, Krushev...Brezhnev, Gorbachev), dan banyak negara lain yang ikut, sampai sesudah perang dunia II, dunia dibagi menjadi dua: dunia "kapitalis" dan "dunia komunis" yang saling memusuhi dalam "perang dingin". Bahkan ada negara yang dibagikan, seperti Korea Selatan dan Korea Utara atau Jerman Barat dan Jerman Timur. Kita memang bisa lihat beberapa contoh, di mana nilai-nilai sosial komunisme diwujudkan dengan cara yang menyakinkan, namun secara garis besar kita dapat bilang bahwa nilai-nilai itu akhirnya membuktikan diri bahwa tidak dapat diwujudkan dalam sistem politik dengan cara yang menguntungkan masyarakat. Melainkan, nilai-nilai sosial sering dikurbankan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan dalam konteks nasional dan internasional.

Satu hal penting, Marxisme juga mengajarkan optimisme!


(berbagai sumber)

7 orang ngopi:

ivan kavalera said...

Mumpung yang lain belum datang..bikin 1 kopi lagi ahh..hehheheehe...

utak atik blog said...

Marxisme dan kopi, rasa apa ya? Mantap!

NDA said...

hmm yang paling bagus adalah mixxx heheee

edsa said...

nice info :)

blognya kami follow ya ^^

Manajemen Emosi said...

wiiih dalem banget..ni waah jadi dapet info berbobot he he he

Sarah Ayoub said...

wah,ambil kacamata dulu ah..

Ideologi komunisme memang tidak bisa di terapkan di dalam negara-negara beragama-bertentangan dengan norma-norma agama.

Nyatanya hanya beberapa gelintir (5) negara yang mampu bertahan di bawah kepemerintahan komunis.

Tapi ekonomi Cina sekarang merangkak naik,lho.Hanya Cina aja yang sukses.

Bang Aan said...

Saya fikir-pikir,sebetulnya kemajuan ekonomi cina yang sangat drastis seperti sekarang ini-pun tak disebabkan oleh hal itu,Pak.

pelanggan setia